Showing posts with label kudus. Show all posts
Showing posts with label kudus. Show all posts

Monday, 21 April 2014

Visit us on Google+
, , , , , , , , , , , , ,

Epilog Jiwa

Epilog Jiwa



Sering kali kita kehilangngan jati diri
seolah kita tak akan pernah kembali
hanya berkutat dalam tempurung melankolis
yang sulit kita keluar karena terus terlilit,
aksen yang begitu kuat menyengkram spirit
hilang lenyap terkapar kekecewaan

begitu lunglai kita kala lalai
hanya menggumam hina tiada tara
tak berniat sungguh mencari maknanya
tak berniat sungguh mencari asalnya
zatnya

seperti batu bak baca membeku
itulah hatiku
tak mempan cahaya menerobos menyelamatkan
keharuman raflessia bunga nan raksasa

mencari seberkas tak kuasa
hanya berharap sang cinta menjadi perkasa
sebagai assyifa yang terang di tengah gulita

segunung menggunung penyesalan menumpuk bengis
selalu menghantui khalayak duri mengiris
tiada ampun mengusik batas lirik ; manis
 di tengah euforia kezaliman  dunia!


malam petang menjelang garang , 22/04/14

Sunday, 13 April 2014

Visit us on Google+
, , , , , , , , , , , , ,

Menilik Keistimewaan Masjid Menara Kudus

Berkas:Masjid Menara Kudus Tampak Depan.jpg
              (gambar masjid Menara Kudus atau Al Aqsa dan Al Manar)

Masjid Menara Kudus (disebut juga dengan Masjid Al Aqsa dan Masjid Al Manar) adalah sebuah mesjid yang dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 1549 Masehi atau tahun 956 Hijriah dengan menggunakan batu Baitul Maqdis dari Palestina sebagai batu pertama. Masjid ini terletak di desa Kauman, kecamatan Kota, kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Mesjid ini berbentuk unik, karena memiliki menara yang serupa bangunan candi. Masjid ini adalah perpaduan antara budaya Islam dengan budaya Hindu. Pada masa kini, masjid ini biasanya menjadi pusat keramaian pada festival dhandhangan yang diadakan warga Kudus untuk menyambut bulan Ramadan.

Berdirinya Masjid Menara Kudus tidak lepas dari peran Sunan Kudus sebagai pendiri dan pemrakarsa. Sebagaimana para walisongo yang lainnya, Sunan Kudus memiliki cara yang amat bijaksana dalam dakwahnya. Di antaranya, beliau mampu melakukan adaptasi dan pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat yang telah memiliki budaya mapan dengan mayoritas beragama Hindu dan Budha. Pencampuran budaya Hindu dan Budha dalam dakwah yang dilakukan Sunan Kudus, salah satunya dapat kita lihat pada masjid Menara Kudus ini.


Masjid ini didirikan pada tahun 956 H atau 1549 M. Hal ini dapat diketahui dari inskripsi (prasasti) pada batu yang lebarnya 30 cm dan panjang 46 cm yang terletak pada mihrab masjid yang ditulis dalam bahasa Arab.

Masjid Menara Kudus ini memiliki 5 buah pintu sebelah kanan, dan 5 buah pintu sebelah kiri. Jendelanya semuanya ada 4 buah. Pintu besar terdiri dari 5 buah, dan tiang besar di dalam masjid yang berasal dari kayu jati ada 8 buah. Namun masjid ini tidak sesuai aslinya, lebih besar dari semula karena pada tahun 1918-an telah direnovasi. Di dalamnya terdapat kolam masjid, kolam yang merupakan "padasan" tersebut merupakan peninggalan kuna dan dijadikan sebagai tempat wudhu.
              (salah satu pintu masuk ke area masjid)

Di dalam masjid terdapat 2 buah bendera, yang terletak di kanan dan kiri tempat khatib membaca khutbah. Di serambi depan masjid terdapat sebuah pintu gapura, yang biasa disebut oleh penduduk sebagai "Lawang Kembar".

Di komplek Masjid juga terdapat pancuran untuk wudhu yang berjumlah delapan buah. Di atas pancuran itu diletakkan arca. Jumlah delapan pancuran, konon mengadaptasi keyakinan Buddha, yakni ‘Delapan Jalan Kebenaran’ atau Asta Sanghika Marga.

                                              (gambar tempat wudhu yang masih asli)

Menara Kudus memiliki ketinggian sekitar 18 meter dengan bagian dasar berukuran 10 x 10 m. Di sekeliling bangunan dihias dengan piring-piring bergambar yang kesemuanya berjumlah 32 buah. Dua puluh buah di antaranya berwarna biru serta berlukiskan masjid, manusia dengan unta dan pohon kurma. Sementara itu, 12 buah lainnya berwarna merah putih berlukiskan kembang. Di dalam menara terdapat tangga yang terbuat dari kayu jati yang mungkin dibuat pada tahun 1895 M. Bangunan dan hiasannya jelas menunjukkan adanya hubungan dengan kesenian Hindu Jawa karena bangunan Menara Kudus itu terdiri dari 3 bagian: (1) kaki, (2) badan, dan (3) puncak bangunan. Menara ini dihiasi pula antefiks (hiasan yang menyerupai bukit kecil).Berkas:Menara M Kudus.jpg
                        (gambar Menara di depan masjid)

Kaki dan badan menara dibangun dan diukir dengan tradisi Jawa-Hindu, termasuk motifnya. Ciri lainnya bisa dilihat pada penggunaan material batu bata yang dipasang tanpa perekat semen. Teknik konstruksi tradisional Jawa juga dapat dilihat pada bagian kepala menara yang berbentuk suatu bangunan berkonstruksi kayu jati dengan empat batang saka guru yang menopang dua tumpuk atap tajug.

Pada bagian puncak atap tajug terdapat semacam mustaka (kepala) seperti pada puncak atap tumpang bangunan utama masjid-masjid tradisional di Jawa yang jelas merujuk pada unsur arsitektur Jawa-Hindu.

Sumber

Sunday, 11 November 2012

Visit us on Google+
, , , , , , , , ,

Pariwisata di Kabupaten Demak


Pantai Morosari Yang Elok-30
                                                
(Gambar Pantai Morosari)

1. Pantai Morosari

           Wisata Bahari Pantai Morosari Kabupaten Demak,Jawa Tengah. Pantai yang terletak di Sayung  Kabupaten Demak 20 km sebelah timur kota Semarang. Dengan bahasa persuasive yang mengudang, memang sangat berhasil menarik kami “Geng Wira-Wiri” untuk mengunjunginya.objek Wisata Pantai Morosari telah menjadi magnet baru bagi para wisatawan.


            Pemandangan alami yang menakjubkan coba ditawarkan pantai tersebut. Didukung dengan sejumlah permainan air, seperti jetski, speedboat, perahu naga, kayak kano dan becak air, pantai ini mencoba mengajak pengunjung untuk menikmatinya. Selain itu tersedia juga kulineria di restoran yang berdiri di dalam kawasan objek wisata tersebut.





(Gambar di area Agro Demak)

2.Wisata Agro Demak


         Wisata Agro Wisata ini memang baru dikembangkan Pemerintah Kabupaten Demak,Jawa Tengah, kurang lebih dalam dua tahun terakhir. Buah belimbing, jambu air merah delima serta jambu air citra menjadi wisata agro andalan yang dikembangkan di beberapa wilayah. Antara lain yakni kelurahan Singorejo, Betokan dan Tempuran.


Salah satu paket wisata menarik yang ditawarkan yakni one day tour agro tourism. Hanya dengan mengeluarkan dana kurang lebih Rp 50.000, wisatawan akan mendapatkan berbagai fasiltitas menarik untuk menikmati wisata agro Demak.


Pada paket wisata ini, wisatawan akan disuguhi minuman berupa jus jambu atau belimbing sebagai ucapan selamat datang. Selain itu juga bisa menikmati makanan-makanan khas Demak yang berasal dari hasil bumi.

Acara berwisata akan dilanjutkan dengan berkeliling desa, menikmati suasana desa dengan alat transportasi tradisional yakni andong. Di tempat wisata agro itu, anda akan bisa menikmati buah yang didapat dari memetik langsung dari pohonnya sepuasnya.


Paket wisata ini biasanya ramai dalam pertengahan tahundan akhir tahun, sekitar bulan Juni dan Oktober. Agro wisata Demak telah menarik pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia. Dan yang pasti tidak ketinggalan dari paket wisata agro yakni dipadukannya dengan wisata religi, berziarah ke makam sunan kalijaga dan sunan Fatah.


Tertarik dengan paket wisata ini, ajaklah sanak saudara dan teman-teman anda menikmati bersama suasana desa dengan kebun buahnya. Paket ini dilayani minimal pengunjung sebanyak 30 orang. Wisatawan




                                                     (Gambar Kawasan Makam Sunan Kalijaga)
3.Makam Sunan Kalijaga
                Makam Sunan Kalijaga terletak di Kadilangu, Demak, Jawa Tengah, sekitar 1,5 Km dari Masjid Agung Demak menuju arah tenggara. Makam Sunan Kalijaga banyak dikunjungi peziarah khususnya pacia malam Jum'at kliwon. Ditempat ini pula pada tanggal 10 Zulkijah dilaksanakan penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur atau Sayyid Ahmad bin Mansur (Syekh Subakir). Ia adalah murid Sunan Bonang. Sunan Kalijaga menggunakan kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah, antara lain kesenian wayang kulit dan tembang suluk. Tembang suluk Ilir-Ilir dan Gundul-Gundul Pacul umumnya dianggap sebagai hasil karyanya. Dalam satu riwayat, Sunan Kalijaga disebutkan menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishaq, menikahi juga Syarifah Zainab binti Syekh Siti Jenar dan Ratu Kano Kediri binti Raja Kediri


                                                       (Gambar Masjid Agung Demak)
4.Masjid Agung Demak

               Masjid tertua di Pulau Jawa ini terletak di pusat Kota Demak, 26 Km dari Kota Semarang. Masjid yang dibangun oleh Wali Songo ini merupakan simbol cikal bakal berdirinya kerajaan Islam pertama oleh Sultan Raden Patah akhir abad 15. Bangunan masjid yang mempunyai nilai historis seni arsitektur tradisional khas Indonesia dengan bentuk atap limasan, mempunyai keunikan tersendiri yaitu keberadaan sebuah tiang penyangga ( soko tatal ) masjid yang terbuat dari potongan kayu (tatal) yang sudak tidak terpakai, konon diikat oleh Sunan Kalijaga sendiri menggunakan sejenis rumput lawatan. Sekitar 1,5 Km dari Masjid Agung Demak ke arah Tenggara terdapat Makam Sunan Kalijaga yang banyak dikunjungi oleh peziarah.




mesjed apik
                            (Gambar salah satu masjid di desa Kenduren)


        (Gambar salah satu moment yang sangat indah pada saat sunset)

5.Desa Kenduren
                   Desa kenduren adalah salah satu desa tujuan wisata di kabupaten Demak, Jawa Tengah. Selain panorama alam yang sangat mempesona juga banyak gadis-gadis berjilbab yang elok menawan, yang menarik hati para pengunjung. Salah satu tempat yang paling di gemari di Desa Kenduren adalah Mbung Pes (kembung Kempes ) sejenis tanggul yang terbuat dari karet yang dibuat pada masa pemerintahan kolonial. akses transportasi dan komunikasi pun cukup memadai di desa Wisata ini. Beberapa kota di daerahnya seperti Kudus, pati Semarang, dan pati pun menjadi salah satu Penopang ekonomi desa ini.


sumber